Kamis, 29 Agustus 2013

Sejarah Uang dan Definisi Ekonomi moneter

Kamis, 29 Aug '13
 
A. SEJARAH UANG

Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran hutang.Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran.

Keberadaan uang menyediakan alternatif transaksi yang lebih mudah daripada barter yang lebih kompleks, tidak efisien, dan kurang cocok digunakan dalam sistem ekonomi modern karena membutuhkan orang yang memiliki keinginan yang sama untuk melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam penentuan nilai. Efisiensi yang didapatkan dengan menggunakan uang pada akhirnya akan mendorong perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang kemudian akan meningkatkan produktifitas dan kemakmuran.

Pada awalnya di Indonesia, uang —dalam hal ini uang kartal— diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Namun sejak dikeluarkannya UU No. 13 tahun 1968 pasal 26 ayat 1, hak pemerintah untuk mencetak uang dicabut. Pemerintah kemudian menetapkan Bank Sentral, Bank Indonesia, sebagai satu-satunya lembaga yang berhak menciptakan uang kartal. Hak untuk menciptakan uang itu disebut dengan hak oktroal.

Uang yang kita kenal sekarang ini telah mengalami proses perkembangan yang panjang. Pada mulanya, masyarakat belum mengenal pertukaran karena setiap orang berusaha memenuhi kebutuhannnya dengan usaha sendiri. Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri dari bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri; singkatnya, apa yang diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya. Perkembangan selanjutnya mengahadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri ternyata tidak cukup untuk memenuhui seluruh kebutuhannya. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, mereka mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya. Akibatnya muncullah sistem 'barter' yaitu barang yang ditukar dengan barang. Namun pada akhirnya, banyak kesulitan-kesulitan yang dirasakan dengan sistem ini. Di antaranya adalah kesulitan untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang diinginkan dan juga mau menukarkan barang yang dimilikinya serta kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat dipertukarkan satu sama lainnya dengan nilai pertukaran yang seimbang atau hampir sama nilainya. Untuk mengatasinya, mulailah timbul pikiran-pikiran untuk menggunakan benda-benda tertentu untuk digunakan sebagai alat tukar. Benda-benda yang ditetapkan sebagai alat pertukaran itu adalah benda-benda yang diterima oleh umum (generally accepted) benda-benda yang dipilih bernilai tinggi (sukar diperoleh atau memiliki nilai magis dan mistik), atau benda-benda yang merupakan kebutuhan primer sehari-hari; misalnya garam yang oleh orang Romawi digunakan sebagai alat tukar maupun sebagai alat pembayaran upah. Pengaruh orang Romawi tersebut masih terlihat sampai sekarang: orang Inggris menyebut upah sebagai salary yang berasal dari bahasa Latin salarium yang berarti garam.

Meskipun alat tukar sudah ada, kesulitan dalam pertukaran tetap ada. Kesulitan-kesulitan itu antara lain karena benda-benda yang dijadikan alat tukar belum mempunyai pecahan sehingga penentuan nilai uang, penyimpanan (storage), dan pengangkutan (transportation) menjadi sulit dilakukan serta timbul pula kesulitan akibat kurangnya daya tahan benda-benda tersebut sehingga mudah hancur atau tidak tahan lama. Kemudian muncul apa yang dinamakan dengan uang logam. Logam dipilih sebagai alat tukar karena memiliki nilai yang tinggi sehingga digemari umum, tahan lama dan tidak mudah rusak, mudah dipecah tanpa mengurangi nilai, dan mudah dipindah-pindahkan. Logam yang dijadikan alat tukar karena memenuhi syarat-syarat tersebut adalah emas dan perak. Uang logam emas dan perak juga disebut sebagai uang penuh (full bodied money). Artinya, nilai intrinsik (nilai bahan) uang sama dengan nilai nominalnya (nilai yang tercantum pada mata uang tersebut). Pada saat itu, setiap orang berhak menempa uang, melebur, menjual atau memakainya, dan mempunyai hak tidak terbatas dalam menyimpan uang logam. Sejalan dengan perkembangan perekonomian, timbul suatu anggapan kesulitan ketika perkembangan tukar-menukar yang harus dilayani dengan uang logam bertambah sementara jumlah logam mulia (emas dan perak) sangat terbatas. Penggunaan uang logam juga sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar sehingga diciptakanlah uang kertas Mula-mula uang kertas yang beredar merupakan bukti-bukti pemilikan emas dan perak sebagai alat/perantara untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu merupakan uang yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang disimpan di pandai emas atau perak dan sewaktu-waktu dapat ditukarkan penuh dengan jaminannya. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat tidak lagi menggunakan emas (secara langsung) sebagai alat pertukaran. Sebagai gantinya, mereka menjadikan 'kertas-bukti' tersebut sebagai alat tukar.

B. Definisi Ekonomi Moneter

Ekonomi Moneter adalah bagian dari ilmu ekonomi yang secara khusus mempelajari sifat, fungsi, dan peranan serta pengaruh uang terhadap aktivitas perekonomian pada sebuah negara.
Sedangkan pengertian Ilmu Ekonomi Moneter itu sendiri adalah ilmu ekonomi yang mempelajari maslah-maslah yang ada kaitanya dengan uang, lembaga keuangan atau kredit ataupun permasalahan mekanisme moneter yang mempengaruhi proses produksi serta pembagian hasil pada masyarakat. Oleh
karena itu ekonomi moneter tersebut sangat penting karena dapat diketahui bagaimana proses penciptaan uang di masyarakat , tingkat bunga , pasar uang, serta sistemk kebijakan moneter dan sistem pembayaran internasioan dan juga dapat mengetahui serta menganalisis.

Dalam konsep dasar ekonomi moneter ,dapat digolongkan menjadi 2 yaitu konsep dasar ekonomi moneter konvensional dan konsep dasar ekonomi moneter syariah . ekonomi moneter konvensional yaitu sebuah konsep yang dimana pada ekonomi konvensional menggunakan tingkat suku bunga sebagai salah satu instrumen utama dalam kebijakan moneter. Akan tetapi tingkat suku bunga yang dipakai pada konsep ini justru dilarang dalam sistem ekonomi syariah. Hal ini dikarenakan sistem bunga dianggap sama dengan sistem riba, yakni suatu tambahan yang dipersyaratkan secara sepihak di awal perjanjian.

Pada konsep dasar ekonomi moneter konvensional ini terdapat tujuan dari memegang uang yang terdiri dari 3 keinginan yaitu tujuan transaksi, tujuan berjaga-jaga dan tujuan spekulasi.

Pada konsep dasar Ekonomi Moneter Syariah memandang uang sebagai alat tukar, hal itu merepresentasikan kekuatan daya beli (purchasing power) yang dianggap sebagai satu-satunya fungsi uang. Oleh karena itu, dalam sistem ekonomi syariah, digunakan tingkat pengembalian syariah dari kegiatan ekonomi sebagai instrument intermediary. Dalam pandangan kebijakan moneter syariah, kebijakan moneter sebenarnya bukan hanya mengutamakan suku bunga

Rabu, 28 Agustus 2013

Pengertian kewirausahaan menurut paa Ahli

Rabu, 28 Aug '13

Pengertian Kewirausahaan Menurut para Ahli
Pengertian Kewirausahaan Menurut para Ahli | Pengertian Kewirausahaan berasal dari kata dasa Wirausaha. Wirausaha dari segi etimologi berasal dari kata wira dan usaha. Wira, berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung. Usaha, berarti perbuatan amal, berbuat sesuatu. Sedangkan, Pengertian Kewirausahaan (Inggris: Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian. Jadi, secara umum pengertian kewirausahaan adalah kegiatan penciptaan bidang usaha yg baru.

Pengertian Kewirausahaan memiliki arti yang berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan karena berbeda-beda titik berat dan penekanannya. Richard Cantillon misalnya, memberikan pengertian kewirausahaan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu.

Berikut ini beberapa Pengertian Kewirausahaan Menurut para Ahli:
    • Soeparman Spemahamidjaja: Kewirausahaan adalah suatu kemampuan (ability) dalam berfikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak tujuan, siasat kiat dan proses dalam menghadapi tantangan hidup.  

    • S. Wijandi:Kewirausahaan: adalah suatu sifat keberanian, keutamaan dalam keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan sendiri.  

    • Richard Cantillon: Kewirausahaan didefinisikan sebagai bekerja sendiri (self-employment).  

    • Drucker: Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different).  

    • Zimmerer: Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan.. 

    • Soeharto Prawiro: Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (star-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth).  

    • Achmad Sanusi: Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis

    Selasa, 27 Agustus 2013

    Kelebihan dan Kekurangan Sistem Ekonomi

    Selasa, 27 Aug '13

    Kelebihan dan Kekurangan Sistem Ekonomi

    Sistem ekonomi liberal
    Kelebihan :
    1) Setiap individu diberi kebebasan memiliki kekayaan dan sumber daya produksi.
    2) Individu bebas memilih lapangan pekerjaan dan bidang usaha sendiri.
    3) Adanya persaingan menyebabkan kreativitas dari setiap individu dapat berkembang.
    4) Produksi barang dan jasa didasarkan pada kebutuhan masyarakat.

    Kekurangan :
    1) Muncul kesenjangan yang besar antara yang kaya dan miskin.
    2) Mengakibatkan munculnya monopoli dalam masyarakat.
    3) Kebebasan mudah disalahgunakan oleh yang kuat untuk memeras pihak yang lemah.
    4) Sulit terjadi pemerataan pendapatan.
    2). Sistem Ekonomi Tradisional
    Kelebihan :
    • Tidak terdapat persaingan yang tidak sehat, hubungan antar individu sangat erat
    • Masyarakat merasa sangat aman, karena tidak ada beban berat yang harus dipikul
    • Tidak individualistis
    Kelemahan :
    • Teknologi yang digunakan masih sangat sederhana, sehingga produktivitas rendah
    • Mutu barang hasil produksi masih rendah
    • Saat ini sudah tidak ada lagi negara yang menganut sistem ekonomi tradisional, namun di beberapa daerah pelosok, seperti suku badui dalam, sistem ini masih digunakan dala kehidupan sehari – hari
    3). Sistem Ekonomi Pasar (Liberal/Bebas)

    Sistem ekonomi pasar adalah suatu sistem ekonomi dimana seluruh kegiatan ekonomi mulai dari produksi, distribusi dan konsumsi diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Sistem ini sesuai dengan ajaran dari Adam Smith, dalam bukunya An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations.
    Kelebihan :

    • Menumbuhkan inisiatif dan kreasi masyarakat dalam mengatur kegiatan ekonomi
    • Setiap individu bebas memiliki sumber-sumber produksi
    • Munculnya persaingan untuk maju
    • Barang yang dihasilkan bermutu tinggi, karena barang yang tidak bermutu tidak akan laku dipasar
    • Efisiensi dan efektivitas tinggi karena setiap tindakan ekonomi didasarkan atas motif mencari laba
    Kelemahan :

    • Sulitnya melakukan pemerataan pendapatan
    • Cenderung terjadi eksploitasi kaum buruh oleh para pemilik modal
    • Munculnya monopoli yang dapat merugikan masyarakat
    • Sering terjadi gejolak dalam perekonomian karena kesalahan alokasisumber daya oleh individu
    • Perhatikan bagaimana sistem ekonomi pasar memecahkan persoalannya
    4). Sistem Ekonomi Komando (Terpusat)

    Sistem ekonomi komando adalah sistem ekonomi dimana peran pemerintah sangat dominan dan berpengaruh dalam mengendalikan perekonomian. Pada sistem ini pemerintah menentukan barang dan jasa apa yang akan diproduksi, dengan cara atau metode bagaimana barang tersebut diproduksi, serta untuk siapa barang tersebut diproduksi.
    Kebaikan dari sistem ekonomi terpusat adalah:
    • Pemerintah lebih mudah mengendalikan inflasi, pengangguran dan masalah ekonomi lainnya
    • Pasar barang dalam negeri berjalan lancar
    • Pemerintah dapat turut campur dalam hal pembentukan harga
    • Relatif mudah melakukan distribusi pendapatan
    • Jarang terjadi krisis ekonomi
    Kelemahan dari sistem ekonomi terpusat adalah :
    • Mematikan inisiatif individu untuk maju
    • Sering terjadi monopoli yang merugikan masyarakat
    • Masyarakat tidak memiliki kebebasan dalam memilih sumber daya
    • Perhatikan bagaimana sistem ekonomi terpusat memecahkan persoalannya
    5).Sistem Ekonomi Campuran

    Sistem ekonomi campuran merupakan dari sistem ekonomi pasar dan terpusat, dimana pemerintah dan swasta saling berinteraksi dalam memecahkan masalah ekonomi.
    Ciri dari sistem ekonomi campuran adalah :
    • Merupakan gabungan dari sistem ekonomi pasar dan terpusat
    • Barang modal dan sumber daya yang vital dikuasai oleh pemerintah
    • Pemerintah dapat melakukan intervensi dengan membuat peraturan, menetapkan kebijakan fiskal, moneter, membantu dan mengawasi kegiatan swasta.
    • Peran pemerintah dan sektor swasta berimbang
    • Penerapan sistem ekonomi campuran akan mengurangi berbagai kelemahan dari sistem ekonomi pasar dan komando dan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
    Kelebihan :
    • Adanya kebebasan berusaha dapat mendorong kreativitas individu sesuai dengan kemampuannya.
    • Hak milik individu atas sumber – sumber produksi diakui walaupun ada pembatasan.
    • Lebih mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan golongan
    Kelemahan :
    • Sulit menentukan batas antara kegiatan ekonomi yang seharusnya dilakunkan oleh pemerintah dan swasta.
    • Sulit menentukan batas antara sumber – sumber produksi yang dapat dikuasai oleh swasta dan pemerintah.

    Jumat, 23 Agustus 2013

    Kebijakan Makroekonomi Indonesia Saat Ini (2009-2013)

    24-Aug-2013

    Kebijakan Makroekonomi Indonesia Saat Ini (2009-2013)

    BAB 1 Pendahuluan

    Makro ekonomi hadir setelah adanya Great Depression pada tahun 1920-1933 yang ditandai dengan banyaknya pengangguran dan menyebabkan keadaan perekonomian dunia kacau pada saat itu. Ekonom menyadari bahwa kita tidak seharusnya menyerahkan semua kepada pasar. Perlu adanya peran pemerintah dalam mengendalikan maupun mengawasi kegiatan perekonomian. Hal ini didukung sejak terbitnya karya monumental dari John Maynard Keynes yang berjudul The general theory of employment, interenst and money (1936). Di dalam bukunya tersebut, Keynes menekankan perlunya campur tangan pemerintah di dalam perekonomian, yang dilakukan melalui berbagai kebijakan makroekonomi, terutama kebijakan fiskal sebagai salah satu cara untuk memecahkan masalah depresi atau pengangguran yang meluas pada waktu ini.
    Akhirnya sejak saat itu, pemerintah berperan penting dalam kegiatan perekonomian. Baik dalam mengeluarkan kebijakan entah itu fiskal maupun moneter yang pada akhirnya bertujuan untuk membuat perekonomian yang stabil ke arah positif. Dimana hal-hal tersebut ditandai dengan menurunnya tingkat pengangguran, rendahnya inflasi, dan padanya pertumbuhan ekonomi. Menurut Boediono (2013:1) dalam bukunya mengatakan bahwa tugas pengendalian makro adalah juga mengusahakan agar perekonomian bisa bekerja dan tumbuh secara seimbang, terhindar dari keadaan yang bisa mengganggu keseimbangan umum.
    Dalam bukunya, Boediono juga mengatakan bahwa ada lima pelaku makro yaitu Rumah Tangga, Produsen, Pemerintah, Lembaga-lembaga Keuangan, dan Negara-negara lain. Jika semua pelaku bisa melakukan kegiatan ekonomi secara baik, maka dampaknya akan timbuk perekonomian yang baik pula bagi Negara tersebut. Bagaimana dengan Indonesia? Di beberapa artikel terdapat beberapa opini tentang perekonomian Indonesia. Ada yang mengalami beberapa penurunan, ada juga yang mengatalam perekonomian Indonesia sedang stabil, bahkan ada yang mengatakan sedang masa pertumbuhan dan diperkirakan terus mengalami peningkatan. Sebenarnya manakah opini yang benar terkait kondisi makro ekonomi Indonesia?
    Bersama-sama setelah ini kita akan lihat beberapa fakta tentang seluk beluk perekonomian makro Indonesia lima tahun terakhir ini. Perekonomian Indonesia sempat melesu, tercatat tahun 2004-2009 bidang kesejahteraan rakyat masih jauh dari kata ideal. Pengangguran terbuka mencapai 9,5 juta jiwa dan penduduk miskin tercatat sebanyak 36,1 juta jiwa. Pertumbuhan ekonomi juga masih rendah pada saat itu hingga dirasa susah untuk mendongkrak perekonomian makro. Pada tahun 2009, krisis finansial global mencapai puncaknya dan hal ini berakibat pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya mencapai mencapai 4.5% dan berada dibawah pertumbuhan ekonomi China dan India.
     Pada tahun 2010, pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu  meningkat sebesar 6,2% dan meningkat lagi sebesar 6,5% ada tahun 2011. Hal ini merupakan dukungan dari  ekspor Indonesia. Pada tahun 2012 ini ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 6,2% persen, terbesar kedua di dunia setelah China. Walaupun masih berada di bawah tahun sebelumnya, tetapi pertumbuhan ini cukup tinggi mengingat masih lesunya pertumbuhan ekonomi dunia akibat krisis yang melanda. Akan tetapi pada kurun waktu 2009-2012, perekonomian Indonesia termasuk menunjukkan kecenderungan positif. Faisal Basri mengatakan “Indonesia adalah satu-satunya negara yang selama 2009-2012 menunjukkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi yang tidak menurun di tengah terpaan krisis ekonomi global yang belum berkesudahan sejak 2008.”
    Data akan kemiskinan di Indonesiapun semakin hari semakin berkurang, meski tidak dapat dipungkiri masih banyaknya penduduk Indonesia yang masih kurang dari kata mampu. Kemiskinan yang pada awalnya 13,33%, pada tahun 2012 berkurang hingga tinggal 11,45%. Sejalan dengan kemiskinan, pengangguranpun berangsur menurun. Pada tahun 2010 tercatat pengangguran yang ada di Indonesia sebanyak 7,1% kemudian di tahun berikutnya menurun hingga 6,6%. Pada tahun 2012 pengangguran mengalami penurunan kembali dengan prosentase 6,14% dan diperkirakan pada tahun 2013 ini, laju pengangguran di Indonesia berkurang menjadi 5,8-6,1% saja.
    Kabar gembira disisi lain adalah dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). PDB Indonesia mengalami kenaikan, tercatat oleh Direktorat Jenderal Anggaran pada tahun 2009, laju PDB hanya mencapai 4,5 sedangkan pada tahun 2010 berhasil naik ke 6,1%. Pada 2011 laju PDB berhasil di kisaran 6,2% dan terus meningkat hingga 6,7% di tahun 2012. Diperkirakan untuk tahun selanjutnya PDB Indonesia akan terus meningkat.Stabilitas perekonomian nasional sepanjang tahun 2012 juga dilihat dari tingkat inflasi yang mencapai 4,3%, atau sedikit di atas tingkat inflasi 2011 (3,8%). Bank Indonesia meyakini inflasi di tahun 2013 dan tahun 2014 masih dalam kisaran sasaran 4,5% ± 1%.
    Bab 2 Pembahasan
    Dalam mendukung keberlangsungan ekonomi makro, maka diperlukan kebijakan-kebijakan yang tepat pula baik dalam fiskal maupun moneter. Kebijakan fiskal secara garis besar membuat perubahan-perubahan dalam sistem pajak atau dalam perbelanjaannya dengan maksud untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi yang dihadapi dan kebijakan moneter yang menitikberatkan pada proses mengatur persediaan uang sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu; seperti menahan inflasi, dan mendorong usaha pembangunan nasional. Dua kebijakan tersebut harus berjalan beriringan.
    Melihat perkembangan perekonomian Indonesia saat ini, kebijakan fiskal maupun moneter sudah cukup berimbang. Selama ini pemerintah sudah cukup giat dalam kebijakan moneternya. Pascakrisis moneter, Indonesia sedang memperbaiki kebijakan-kebijakan moneternya, salah satu cara adalah dengan independensi Bank Indonesia dalam mengatur moneter. Dalam perjalanannya, Bank Indonesia (BI) menerapkan system Inflation Targeting Framework (ITF) yang sukses diterapkan di berbagai Negara seperti Inggris, Kanada, Sweedia, Australia, bahkan di  Negara berkembang seperti Chili, Brazil, Korea, dsb.
    ITF sendiri ditetapkan sejak bulan Juli 2005 lalu dan menuai hasil yang menggembirakan bagi perekonomian makro. Lewat adanya ITF Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter dengan inflasi yg rendah dan stabil sebagai sasaran utama karena inflasi merupakan satu-satunya variabel makroekonomi yang dapat dipengaruhi kebijakan moneter. Dengan tetap menjaga inflasi yang rendah dan stabil, pemerintah percaya hal ini dapat menyebabkan terlaksananya kebijakan makro ekonomi yang lain. Terbukti sampai sekarang tingkat inflasi masih berada di kisaran 4,5%.
    Kebijakan moneter lain yang menunjang perkembangan makro ekonomi Indonesia antara lain yaitu kebijakan suku bunga yang diaragkan agar pergerakan inflasi tetap berada pada sasaran yang ditetapkan. Diantaranya BI menurunkan BI Rate 25 bps pada tahun 2012 sebagai stimulan  ekonomi Indonesia ditengah lemahnya ekonomi global serta mempertahamkam BI Rate pada tingkat 5,75% dan menguatkan operasi moneter untuk mengendalikan akses likuiditas jangka pendek untuk mengantisipasi dampak peningkatan inflasi jangka endek.
    Selain suku bunga, kebijakan moneter yang dilakukan adalah kebijakan nilai tukar agar stabilitas nilai tukar tetap terjaga. Bank Indonesia terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah yang ada dan melakukan interensi di pasar valas. Di sisi penguatan pasokan valuta asing, BI  mengeluarkan ketentuan terkait penerimaan Devisa Hasil Ekspor ((DHE) dimana eksportir waji menerima seluruh DHE melalui bank devisa di dalam negeri. Selain itu, BI juga mengadakan lelang Term Deposit (TD) Valas untuk memperkaya instrument valas domestik dan menjadi outlet penempatan devisa. Sementara untuk stabilitas keuangan dan pendukung keseimbangan eksternal, BI menerapkan kebijakan makroprudensial melalu pengaturan besaran rasio loan-to-value (LTV) dan down payment (DP) mengingat peningkatan tajam di kredit pebankan khususnya perumahan dan otomotif. Kebijakan moneter terus ditata dan diperketat lagi, disisi makroprudensial sudah ada BI yang mengatasi dan baru-baru ini pemisahan untuk urusan mikroprudensial dan lembaga keuangan dipegang oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
                    Lantas bagaimana dengan kebijakan fiskal Indonesia? Peranan atau fungsi pemerintah di bidang fiskal adalah untuk menciptakan stabilisasi ekonomi, pemerataan pendapatan, dan mengalokasikan sumber daya manusia. Khusus untuk fungsi stabilisasi dan pemerataan, akan lebih efektif apabila dilakukan pemerintah pusat, sedangkan fungsi alokasi akan lebih efektif dilakukan pemerintah daerah (Kuncoro, 2004:187). Oleh karena itu, kebijakan fiskal ini dilakukan sinergis baik pemerintah pusat maupun daerah.
                    Pemerintah melakukan upaya desentralisasi fiskal dalam rangka mensinergiskan kebijakan fiskal pusat dengan daerah sehingga daerah juga bisa mengelola keuangannya. Hal ini didukung dengan peran pemerintah dalam melakukan perimbangan keuangan dengan cara transfer/hibah ke daerah dan didukung dengan penyerahan sebagian kewenangan perpajakan kepada daerah.Untuk saat ini transfer pendanaan daerah lebih mendominasi karena perpajakan daerah sendiri masih sangat terbatas. Sampai saat ini pemerintah masih berusaha mengefektifkan desentralisasi fiskal.
    Sementara bila kita berbicara fiskal, maka tidak bisa lepas dari Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN). Dalam RAPBN 2013, pemerintah Indonesia mentargetkan pendapatan negara akan mencapai Rp1.507,07 triliun atau meningkat 12,6% dari APBN-P 2012. Sementara itu, belanja 2013 juga diperkirakan akan meningkat 8,7% menjadi Rp1.657,09 triliun. Peningkatan sumber pendapatan dan pengeluaran negara tersebut menyebabkan defisit anggaran sebesar Rp153,34 triliun atau -1,65% dari PDB dibandingkan dengan -2,23% dari PDB pada APBN-P 2012. Dari data yang ada, anggaran belanja terbesar terletak pada anggaran belanja pusat di pusat dan setelah itu disusul transfer ke daerah.
    Untuk itu, pemerintah berupaya meningkatkan kualitas pengeluaran Negara agar berimbang.  Hal pertama yang akan dilakukan adalah meningkatkan belanja modal untuk terealisasinya pembangunan infrastruktur nasional dan konektivitas antardaerah serta peningkatan ketahanan energi dan pangan. Akhir-akhir ini di tingkat mahasiswa sendiri sudah sering membahas tentang rencana pemerintah dalam ketahanan energi dan pangan yang sementara ini masih digodok dan belum tahu kapan ketahanan tersebut benar-benar matang. Pemerintah menilai, selama ini kinerjanya dalam kebijakan fiskal terkait pembangunan infrastruktur sudah cukup maksimal, sebagian besar belanja modal digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur yaitu sebesar Rp 216,1 triliun pada tahun 2013. Anggaran ini meningkat 28,1% dari tahun 2012. Peningkatan anggaran infrastruktur ini untuk pembangunan sektor riil seperti listrik, jalan raya, tol, dermaga dan lain-lain.

    Kedua, penurunan anggaran subsidi khususnya subsidi listrik untuk mengurangi beban subsidi listrik. Rencananya pemerintah akan meningkatkan tarif listrik secara bertahap setiap kuartal dan akan memprioritaskan perhatian pada masyarakat kalangan menengah ke bawah. Subsidi juga akan dikurangi karena pemerintah berargumen distribusi subsidi selama ini tidak merata dan salah sasaran.  Penurunan subsidi yang akan dipotong yaitu subsidi energi. Subsidi energi nantinya akan dialokasikan untuk bidang lain seperti pendidikan dan kesehatan. Memang anggaran yang paling mendapat sorotan publik adalah anggaran untuk subsidi energi.
                    Dalam RAPBN 2013, anggaran subsidi energi masih menjadi pengeluaran terbesar, mencapai porsi 27,8 % dari total anggaran. Porsi terbesar kedua dalam komposisi belanja pemerintah pusat adalah belanja pegawai (sebesar 21,2%). Kemudian disusul oleh belanja modal (17%), belanja barang (14%), pembayaran bunga utang (9,9%), belanja sosial (5,2%) dan belanja lain-lain (4,2%).
    Dari segi pajak, pemerintah Indonesia mentargetkan pendapatan pajak sebesar Rp1.193 triliun pada 2013 atau kenaikan sebesar 17,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Tujuan dari pemilihan instrumen fiskal pajak adalah untuk meningkatkan pendapatan yang cukup sekaligus meminimalisasi distorsi dan menjaga sistem pajak yang mudah untuk dilaksanakan.
                    Selain itu, jika berbicara lebih panjang tentang kebijakan fiskal, prestasi fiskal Indonesia cukup baik mengingat pertumbuhan ekonomi cnderung positif. Indonesia mendapat predikat sebagai Negara layak investasi (investment grade) dan membuktikan pemerintah Indonesia cukup berhasil dalam menerapkan kebijakan fiskalnya. Rasio utang terhadap PDB Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini terus menurun, dari 57% pada 2004 menjadi 24% pada akhir 2011 didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang semakin kuat dan pengelolaan fiskal yang baik. Posisi fiskal Indonesia secara umum dinilai masih sehat. Dimana, angka realisasi sementara defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 adalah Rp146 triliun. Artinya angka ini masih 1,8% dari PDB.

    BAB 3 Rekomendasi dan Kesimpulan
                    Pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung ke arah positif. Selama sinergitas fiskal dan moneter dapat dijaga dan dengan rapi diterapkan maka Indonesia diharapkan mampu untuk memenuhi target-target di tahun 2013 terkait pertumbuhan ekonomi, PDB, laju inflasi, pajak, investasi,pengangguran, tingkat kemiskinan dan lain-lain. 
                    Terkait pengelolaan fiskal, ada pembahasan yang menarik akhir-akhir ini yaitu soal kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Ada pro-kontra tersendiri terkait kebijakan yang satu ini. Pemerintah menilai dengan menaikkan harga BBM dan mengurangi subsidi maka akan terjadi penghematan subsidi mulai Rp21 triliun hingga Rp30 triliun. Menurut pemerintah subsidi BBM sendiri kebanyakan salah sasaran dan malah dinikmati kaum menengah ke atas.  Tetapi nyatanya, jika harga BBM dinaikkan mayoritas rakyat yang berpenghasilan menengah ke bawah yang banyak menjerit.
                    Menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementrian Keuangan, sekalipun harga BBM naik inflasi yang terjadi masih bisa dikendalikan dan hanya akan terjadi inflasi sebesar 0,8% saja. Tetapi sebelumnya mari kita lihat sejarah beberapa tahun silam. Pada 2005, pemerintah dua kali menaikkan harga BBM dengan total kenaikan 87%. Dengan memanfaatkan kalkulasi LPEM-FEUI, pemerintah yakin kenaikan harga BBM yang disertai program kompensasi akan menurunkan jumlah penduduk miskin dari 16,43% menjadi 13,87%. Kenyataannya, kenaikan BBM mendongkrak inflasi menjadi 17,1% dan jumlah warga miskin justru naik, dari 15,97% jadi 17,75% (BPS, 2007).
                    Sebenarnya, anggaran belanja terbesar berada di belanja pusat. Dan sedikit yang menyebutkan pos belanja birokrasi juga menjadi beban APBN. Belanja birokrasi di APBN 2013 mencapai 400,3 triliun atau 35,2% dari belanja pemerintah pusat, yakni belanja pegawai sebesar 241,1 triliun (naik 25,4 triliun atau naik 11,77% dari tahun 2012 sebesar 215,7 triliun) dan belanja barang sebesar 159,2 triliun. Itu baru anggaran belanja pemerintah pusat. Jika ditambah anggaran belanja birokrasi daerah maka total belanja birokrasi akan jauh lebih besar.
    Belanja birokrasi total dalam tujuh tahun terakhir (2005 hingga 2012) mengalami kenaikan hingga 400 persen. Hingga tahun 2012 belanja birokrasi terus membengkak hingga mencapai 733 triliun. Sebenarnya jika kita bicara soal penghematan anggaran, masih banyak yang seharusnya bisa dihemat dan dibelanjakan sebijak mungkin. Secara teoritis mungkin bisa saja pencapaian inflasi masih terkendali, tetapi apabila kenyataan berbicara lain akan ada banyak permasalahan yang timbul seperti pengangguran, kenaikan sembako, kemiskinan, dan lain-lain. BI sendiri berencana menaikkan suku bunga acuan bila kenaikan tersebut memang benar terjadi.
     Pemerintah seharusnya juga bisa mengoreksi kinerja para pejabatnya selama ini. Bila praktik KKN masih gencar di lakukan, pemborosan anggaran tetap saja akan terjadi. Masih banyak yang bisa dilakukan terkait perbaikan tata kelola APBN untuk menghindari korupsi, kebocoran, dan inefisiensi dibandingkan harus mengorbankan rakyat untuk kenaikan harga BBM. Hanya sekedar mengingatkan petani kita berjuang untuk bisa mandiri dalam pangan, buruh-buruh berteriak mengusahakan kenaikan upah, jutaan masyarakat menengah kebawah pontang-panting dalam memenuhi kebutuhan pokoknya. Jika memang dampak kenaikan BBM positif untuk perekonomian makro semoga hal tersebut memang benar dirasakan oleh rakyat biasa.
    Pemerintah harus hati-hati dalam menetapkan segala kebijakan bagaimanapun segala kebijakan yang ditetapkan bersifat makro dan meliputi seluruh elemen bangsa ini. Jika perekonomian Indonesia saat ini terus mengalami perbaikan secara teori, maka pemerintah harus lebih bijak lagi memaknai kenyataan di lapangan. Fiskal dan moneter pemerintah seyogyanya dilakukan secara baik dan rapi, sementara rakyat harus proaktif dan ikut mengawal berbagai kebijakan tersebut. Perekonomian makro tidak hanya digerakkan oleh pemerintah, rakyatpun dari sisi rumah tangga maupun perusahaan diharapkan lebih mampu produktif dan menggerakkansisi makroekonomi saat ini hingga masa yang akan datang. Bila semua sinergisitas tersebut terjadi dari semua pihak, perekonomian makro Indonesia tidak hanya positif namun bisa stabil dan kuat.

    Daftar Pustaka
    Boediono, 2013, Ekonomi Makro (edisi keempat), Yogyakarta,BPFE-Yogyakarta
    Badan Pusat Statistik, Berita Resmi Statistik, Januari 2013.
    Badan Pusat Statistik, Berita Resmi Statistik, November 2012.
    Faisal Basri, BBM Biang Keladi Defisit Perdagangan, Harian Kompas, 7 Januari 2013.
    Firmanzah, Prakiraan Perekonomian Indonesia 2013, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Desember 2012.
    Firmanzah, Ekonomi Indonesia dan Outlook 2013, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Desember 2012.
    Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI), Laporan Perkembangan Pelaksanaan MP3EI, Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Desember 2012
    Kuncoro, M., 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah (Reformasi, Perencanaan, Strategi, dan Peluang), Erlangga, Jakarta.
    Mustopadidjaja A.R.,dkk, 2012, BAPPENAS : Dalam Sejarah Perencanaan Pembangunan Indonesia 1945-2025, Jakarta: LP3ES.
    The World Bank, Perkembangan Triwulanan Perekonomian Indonesia: Menyoroti Kebijakan, Desember 2012.

    Perekonomian Indonesia saat ini

    Perekonomian Indonesia saat ini

    PEREKONOMIAN INDONESIA SAAT INI 
    Ekonomi indonesia saat ini optimis pertumbuhan ekonomi yang meningkat.dengan pertumbuhan dan pendapatan nasional yang semakin meningkat kita dapat melihat perkembangan dan kemajuan kita pada negara lain. dengan pendapatan nasional per tahun indonesia mampu memberikan kemajuan.ekonomi makro yang sangat berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi saat ini.salah satu pertumbuhan ekonomi itu dapat dilihat dengan permintaan domestik masih akan menjadi penopang utama kinerja perekonomian. Selain itu, ekspor dan impor, serta investasi.
    Di lihat dari sedikit perekonomian makro dibidang perbankan ini dapat kita rasakan pertumbuhan ekonomi itu meningkat.Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang triwulan I-2011 masih akan tumbuh tinggi, yakni di kisaran 6,4 persen. Sehingga, sepanjang tahun ini, perekonomian Indonesia diproyeksikan tumbuh di kisaran 6-6,5 persen.
    Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengungkapkan hal itu dalam rapat kerja dengan Komisi XI (membidangi keuangan dan perbankan) DPR, Senin (14/2). “Prospek perekonomian ke depan akan terus membaik dan diperkirakan akan lebih tinggi,” kata Darmin.
    Dia mengatakan, permintaan domestik masih akan menjadi penopang utama kinerja perekonomian. Selain itu, ekspor dan impor, serta investasi, juga akan tumbuh pesat. Ia menambahkan, Indonesia sudah melalui tantangan yang di 2010. Dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik di tahun lalu, yakni 6,1 persen, akan mempermudah mencapai target pertumbuhan di 2011. Meski demikian, inflasi tinggi masih akan menjadi tantangan serius di tahun ini.
    Kondisi Perekonomian Indonesia Dilihat dari PDB
    Pendapat Domestik Bruto (PDB) Indonesia saat ini menempati urutan ke-18 dari 20 negara yang mempunyai PDB terbesar di dunia. Hanya ada 5 negara Asia yang masuk ke dalam daftar yang dikeluarkan oleh Bank Dunia. Kelima negara Asia tersebut adalah Jepang (urutan ke-2), Cina (urutan ke-3), India (urutan ke-11), Korea Selatan (urutan ke-15).
    Indonesia yang kini mempunyai PDB US$700 miliar, boleh saja bangga. Apalagi, dengan pendapatan perkapita yang mencapai US$3000 per tahun menempatkan Indonesia di urutan ke-15 negara-negara dengan pendapatan perkapita yang besar.
    Pihak Swasta
    Adanya lembaga – lembaga swadaya masyarakat, seperti Dompet Dhu’afa, bekerja sama dengan Institut Kemandirian yang berusaha mencetak kaum muda berpotensi meenjadi hebat sebagai pejuang ekonomi adalah cara salah satu membuat pemerataan pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan oleh semakin banyak rakyat Indonesia.
    Pihak Pemerintah
    Sinergi antar kementrian  harus dibuat semakin solid dan saling mendukung sehingga tidak tumpang tindih dan lebih banyak bermanfaat bagi masyarakat. Kampanye pembentuka jiwa kewirausahaan , seperti seminar bertaraf internasional\, adalah salah satu jalan membangkitkan potensi jiwa – jiwa pejuang ekonomi yang pantang menyerah dan penuh kreativitas tinggi.
    Dampak Globalisasi ekonomi positif dan dampak globalisasi negatif menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam dunia usaha. Ketika kita berfikir menjadi pengusaha dan memanfaatkan setiap peluang usaha yang kita miliki sebenarnya saat itu kita masuk kedalam sebuah sistem ekonomi dan yang paling populer adalah sistem ekonomi kapitalis yang menjadi bagian integral dari proses globalisasi. Ada banyak pengertian globalisasi yang secera umum mempunyai kemiripan salah satu pengertian globalisasi adalah proses yang melintasi batas negara di mana antarindividu, antarkelompok, dan antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu sama lain .
    Sebagaimana sebuah sistem globalisasi ekonomi mempunyai dampak positif dan juga dampak negatif, terlepas dari pendapat pro globalisasi ekonomi dan kontra globalisasi ekonomi kita akan mencoba menelaah secara sederhana dampak postif globalisasi ekonomi dan dampak negatif globalisasi ekonomi.
    Dampak positif globalisasi ekonomi ditilik dari aspek kreatifitas dan daya saing dengan semakin terbukanya pasar untuk produk-produk ekspor maka diharapkan tumbuhnya kreatifitas dan peningkatan kualitas produksi yang disebabkan dorongan untuk tetap eksis ditengah persaingan global, secara natural ini akan terjadi manakala kesadaran akan keharusan berinivasi muncul dan pada giliranya akan menghasilkan produk2 dalam negeri yang handal dan berkualitas.
    Disisi lain kondisi dimana kapababilitas daya saing yang rendah dan ketidakmampuan Indonesia mengelola persaingan akan menimbulkan mimpi buruk begi perekonomian negeri ini, hal ini akan mendatangkan berbaga dampak negatif globalisasi ekonomi seperti membajirnya produk2 negeri asing seperti produk cina yang akhirnya mamatikan produksi dalam negeri, warga negara Indonesia hanya akan menjadi tenaga kasar bergaji murah sedangkan pekerjaan pekerjaan yang membutuhkan skill akan dikuasai ekspatriat asing, dan sudah barang tentu lowongan pekerjaan yang saat ini sudah sangat sempit akan semakin habis karena gelombang pekerja asing.
    Dampak positif globalisasi ekonomi dari aspek permodalan, dari sisi ketersediaan akses dana  akan semaikin mudah memperoleh investasi dari luar negeri. Investasi secara langsung seperti pembangunan pabrik akan turut membuka lowongan kerja. hanya saja dampak positif ini akan berbalik 180 derajat ketika pemerintah tidak mampu mengelola aliran dana asing, akan terjadi justru penumpukan dana asing yang lebih menguntungkan pemilik modal dan rawan menimbulkan krisis ekonomi karena runtuhnya nilai mata uang Rupiah. Belum lagi ancaman dari semakin bebas dan mudahnya mata uang menjadi ajang spekulasi. Bayangkan saja jika sebuah investasi besar dengan meilbatkan tenaga kerja lokal yang besar tiba2 ditarik karena dianggap kurang prospek sudah barang tentu hal ini bisa memengaruhi kestabilan ekonomi.
    Dampak positif globalisasi ekonomi dari sisi  semakin mudahnya diperoleh barang impor yang dibutuhkan masyarakat dan belum bisa diproduksi di Indonesia, alih tehnologi juga bisa terbuka sangat lebar, namun kondisi ini juga bisa berdampak buruk bagi masyarakat karena kita cenderung hanya dijadikan objek pasar, studi kasus seperti produksi motor yang di kuasai Jepang, Indonesia hanya pasar dan keuntungan penjualan dari negeri kita akan dibawa ke Jepang memperkaya bangsa Jepang. Dampak positif globalisasi ekonomi dari aspek  meningkatnya kegiatan pariwisata, sehingga membuka lapangan kerja di bidang pariwisata sekaligus menjadi ajang promosi produk Indonesia.
    Globalisasi dan liberalisme pasar dikampayekan oleh para pengusungnya sebagai cara untuk mencapai standar hidup yang lebih tinggi, namun bagi para penentangnya globalisasi hanya kedok para kapitalis yang akan semakin melebarnya ketimpangan distribusi pendapatan antar negara  kaya dengan negara berkembang dan miskin. Penguasaan kapital yang lebih besar dengan menciptakan pasar global terutama di dunia ketiga yang diyakini tidak akan mampu memenuhi standar tinggi produk global akan membuka peluang terjadinya penumpukan kekayaan dan monopoli usaha dan kekuasaan politik pada segelintir orang. So pilihan akan keblai kekita mana yang kita pilih Dampak Globalisasi ekonomi positif atau dampak globalisasi negatif.
    http://www.anneahira.com/kondisi-perekonomian-indonesia-saat-ini.htm
    http://dwi-ardianto.blogspot.com/2011/02/perekonomian-indonesia-saat-ini.html
    http://www.peluangusahabisnisonline.com/2011/03/dampak-globalisasi-ekonomi-positif-dan.html